Jumat, 23 April 2010

NGILU MERINDU

Pukul 02.31 dini hari.
Tubuh yang terjaga, dan pikiran yang lelah.
Lemah, dirajam rindu yang keterlaluan.

Sudut mata yang menganak sungai.
Menetesi sisi bantal dan rambut yang terurai.

Malam demikian dingin.
Sedingin kenangan kita yang menusuk hingga ke tulang rusuk.
Ngilu.. Perih.. Menggigil..

Rasaku tidak menguap, meski kau bakar dengan jarak.
Tidak membeku, meski waktu telah demikian angkuh memaksaku untuk membuangmu.
Apa yang kita rasa, kita jaga menjadi rahasia.
Bersenyawa menjadi udara.
Masih terasa hingga detik ini ku hirup.

Hati ini dingin, gelap dan terkunci.
Pulanglah...
Buka kuncinya, nyalakan perapiannya agar ruangan ini menjadi terang dan hangat untuk kita tempati berdua.
Kembalilah, aku masih menunggumu..


-Belina-
220410
03:03

Rabu, 21 April 2010

SAMPAH

Di pelataran jiwaku, berserakan puing-puing serpihan sisa bayangmu.
Sampah.
Tak lagi guna, cuma mengisi sebagian rongga kosong di kepala.
Kau adalah sampah.
Sampah plastik yang sudah terkubur bertahun-tahun di kedalaman tanah hatiku.
Tidak akan hilang, tidak hancur, tidak terurai sedikitpun!

Ya, kau sampah!
Kau kotorkan pikiranku dengan angan-angan tentangmu
Kau nodai dinding hatiku dengan grafity, gambaran pribadi keseharianmu
Kau buatku jatuh terpeleset karena perhatianmu yang kau buang sembarangan!

Kau tak salah, sampah..
Ini salahku yang salah menyikapimu
Harusnya aku bisa lebih bijak
Harusnya aku tahu, kau bisa didaur ulang
Kau tak salah, sampah..
Kau tidak bisa disalahkan!
Semua petaka ini terjadi karena ulahku, bukan karena maumu

Kau tak bisa disalahkan, sampah..
Kau cuma benda yang bisu dan diam
Akh, sial..
Ternyata justru diammu yang membuatku kukuh bertahan!

-Belina-
150410
13:03

Senin, 19 April 2010

BOMA

Namanya Boma.
Boma Narakasura, lengkapnya.
Ia memandangku, aku lekat menatapnya.
Ku raih tangannya, kugenggam lembut.
Ada getar aneh dari sudut hatiku yang terdalam.

‘Nduk, kamu pernah dengar cerita tentang aku?’

‘Ya, pernah. Ketika aku kecil dulu. Tapi hanya sekelumit. Ku baca dari buku kumpulan dongeng pengantar tidur, bonus cuma-cuma dari susu instant yang kubeli.’

‘Lalu setelah itu?’ ia bertanya.

‘Selain itu. Hmm…’ aku berpikir sejenak.
‘Sepertinya tidak ada lagi. Sangat jarang aku menemukan kisah tentangmu. Kalaupun ada, ceritanya pasti tidak terlalu panjang.’

‘Ya, memang Nduk. Aku tidak sepopuler Arjuna atau Gatotkaca. Tidak banyak orang yang tertarik untuk mengulas kisah tentangku. Mereka lebih suka membahas tentang kisah tokoh-tokoh baik. Seperti Hanoman, yang menyelamatkan Sinta dari cengkraman Rahwana. Atau Yudhistira, tokoh dengan gambaran pribadi jujur, adil, sabar dan taat beragama.’
Ia diam sejenak. Memperhatikan setiap jengkal wajahku dengan seksama.

‘Ya, begitulah aku Nduk. Selalu dibuang dan disingkirkan.’
Wajahmu tampak begitu sedih.
Ku sentuh lembut bahumu, menenangkan.

‘Kau tidak sendiri, Kang…’ aku berbisik di telinganya.
‘Aku merasakan hal yang sama denganmu. Cuma bedanya, kau lelaki dan aku perempuan. Hhhh…’ aku menghela napas.
‘Sayang, aku perempuan. Tidak banyak yang bisa kulakukan dengan batasan kodratku.’

‘Jangan menyesal, Nduk,’ tangan Boma mengelus kepalaku.
‘Kau pun perempuan hebat. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana dahsyatnya kisahku terjadi pada seorang perempuan sepertimu. Kau tegar, Nduk. Sebagian pribadimu terwarisi dari sifatku.’

‘Maksudmu, aku setengah laki-laki?’ ku pasang mimik lucu.
Dia tertawa, begitupun aku.
Tiba-tiba ia mengusap pipiku perlahan.
‘Kau seharusnya menjadi pribadi yang lembut, Nduk. Kau pentasnya menjadi wanita yang anggun. Tidak semestinya kau merasakan apa yang kualami.’

‘Sudahlah, Kakang Boma. Apa yang telah terjadi pada kita tidak perlu disesali. Bukankah dengan adanya peristiwa itu, kita ditempa menjadi pribadi yang tahan banting. Kita tumbuh bersama lingkungan. Belajar kepada alam. Berguru kepada hidup. Mempersetankan cinta, berhati baja, tidak mudah dijatuhkan oleh siapapun...’

‘Tapi, Nduk…’ dia memotong kalimatku.
‘Kau ini wanita. Tidak sepatutnya kau berkeras seperti itu.’

‘Memangnya kenapa kalau aku wanita? Bukankah Srikandi juga seorang wanita? Tapi dia kuat, berani dan tangguh. Ia menentang apa yang tidak benar. Dia orang yang kukagumi selain dirimu.’
Ia diam memandangku. Tidak mengucap sepatah kata pun.

‘Kakang Boma, perihmu adalah perihku. Kita adalah satu jiwa yang terbelah menjadi dua tubuh. Lukamu adalah sakitku. Kerasku adalah amarah dan kecewa yang tidak pernah ku ungkap. Kita mengalami ketidakadilan yang sama, Kang!’
Dia masih bungkam.
‘Apakah salah kalau aku menjadi cerminan dari dirimu? Jawab, kang. Kenapa diam? Jawab, SALAHKAH AKU?’


Aku seketika tersentak. Tersadar oleh suara jeritanku sendiri. Aku menoleh ke kanan kiri. Sudah tidak ada siapapun di ruangan ini, tinggal kami berdua.
Hari sudah sangat senja. Orang-orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aku melangkah keluar dari gedung kesenian. Dengan menggenggam wayang Boma di tangan.


-Belina-
190410
18:55