Kamis, 25 Maret 2010

TUNJUK SATU BINTANG

Aku masih belum beranjak dari tempatku. Duduk di tengah hamparan tumbuhan perdu yang membentang. Ditemani derik jangkrik dan angin yang sesekali berhembus mempermainkan anak rambutku. Sejauh mata memandang, yang ada hanya padang perdu dan langit penuh bintang. Aku asyik sekali memandangi mereka. Sampai-sampai aku lupa sudah sejak kapan aku disini. Sejak beberapa jam yang lalu, sejak kemarin, seminggu yang lalu? Atau... ah, masa bodohlah. Aku sudah tidak peduli dengan laju waktu. Selama ia tidak mengusik keasyikanku ini, aku pun tidak akan mengganggunya.

'Apa yang sedang kau pikirkan?' sebuah suara menyapaku. Aku terkejut bukan main. Aku hanya sendiri disini. Dari mana asal suara itu?
'Aku disini,' ujar suara itu lagi.
Sebuah cahaya kecil terbang mendekatiku.
'Apa ini? Kunang-kunang?' kupincingkan mataku. Mencoba membiasakan pandanganku dengan cahayanya.
Ia sudah semakin dekat denganku. Sekarang bisa kulihat dengan jelas bagaimana bentuk aslinya. Makhluk kecil bersayap. Wajahnya cerah menebar senyum ramah. Seorang peri kecil.

'Hai..' dia menyapaku. Aku memandangnya. Diam. Tak bergerak, juga tak menjawab.
'Mengapa kau memandangku begitu? Apa kau merasa takut padaku?' sang peri kecil bertanya.
'Harusnya iya. Tapi nyatanya tidak. Karena rasanya aku sudah mengenalmu.' aku mencoba mengingat-ingat.
'Ya, aku sebenarnya sangat mengenalmu. Kita pernah beberapa kali bertemu. Mungkin kau lupa. Ehm, boleh aku menemanimu sebentar? Sepertinya kamu kesepian..'
Aku tersenyum.
‘Aku memang sendiri. Tapi aku tidak merasa kesepian. Tapi kalau kau mau menemaniku, silakan saja.'
Peri kecil itu terbang rendah, lalu mendarat di kedua lututku yang tertekuk.
'Ku perhatikan sejak tadi kau memandang langit dengan raut wajah yang berubah-ubah. Sebentar tersenyum, sebentar menerawang, lalu rautmu menjadi sedih sejenak, kemudian tersenyum lagi. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?' dia memandang wajahku lekat-lekat, seperti mencoba menilik apa yang tersirat didalamnya.
'Tidak ada,' aku menjawab singkat, lalu kembali asyik memandang langit.
'Kamu suka bintang?' peri kecil bertanya.
'Ya, aku suka sekali. Mereka unik. Bintang yang satu berbeda dengan yang lain. Mereka mempunyai ciri khas masing-masing.'
'Coba kau tunjuk satu bintang. Akan kubawakan ia kesini untuk menemanimu,' peri kecil menawarkan.
Senyum di wajahku meredup.
'Bintangku tidak hadir malam ini. Bintang kejoraku..'

'Jangan bersedih..' hibur peri kecil.
'Disini ada banyak bintang yang bisa menggantikannya.'

'Tidak. Mereka semua berbeda. Bintang kejoraku punya cahaya paling terang. Ia bintang paling indah yang pernah kulihat. Aku cuma mau bintang kejoraku..'
Peri kecil wajahnya berubah menjadi lebih sendu, seperti ikut merasakan kesedihanku.
'Kemana perginya bintang kejoramu?'
'Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Dulu, dia sempat menemaniku. Saat aku sedih, senang, atau sedang tidak merasakan apa-apa. Dia selalu ada untukku. Tidak ada tanda-tanda akan kepergiannya. Bahkan malam terakhir sebelum ia pergi, kami masih sempat bertemu. Ia tak mengucapkan sepatah katapun padaku malam itu. Entah apa yang terjadi padanya. Keesokan malamnya hingga malam-malam berikutnya, bintang kejoraku tidak pernah muncul lagi.'
'Karena itulah kau masih menunggunya disini?' peri kecil bertanya lagi.
Aku tak menjawab. Cuma tersenyum simpul, lalu kembali memandang langit.

Sang peri kecil menengadahkan kepalanya. 'Wah, ada banyak bintang menyapamu.'
'Ya, terkadang aku yang menyapa mereka,' senyum tergurat di wajahku sesaat.
'Tidakkah terpikir olehmu untuk memiliki salah satu dari sekian banyak bintang?' goda sang peri.
'Tidak. Aku cuma suka memandangi mereka saja. Tapi tidak untuk memiliki.'
'Ayolah.. mau berapa lama lagi kau menunggu sampai bintang kejoramu muncul? Yang jangankan menyapamu, untuk menampakkan dirinya di langit saja, ia tidak berkenan.'
'Jangan berkata seperti itu!' aku tiba-tiba menjadi emosi.
'Bintang kejoraku masih ada. Dia tidak pergi kemana-mana. Ia cuma tertutup awan mendung sementara. Dan aku percaya, setelah hujan turun nanti maka awan mendung akan lenyap. Saat itulah bintang kejoraku akan kembali menghias langit bersamaan dengan munculnya pelangi. Aku yakin!'
Peri kecil itu terpana menatapku. Ia tidak menyangka aku akan semarah itu. Ku atur nafasku yang terengah. Dalam hati, diam-diam aku menyesal telah bersikap kasar padanya. Harusnya aku tak perlu sampai begitu.
'Maafkan membuatmu marah,' peri kecil menepuk-nepuk lembut lututku.
Aku mengangguk sekilas, tapi tak menjawab.
Untuk beberapa lama kami saling terdiam. Sampai akhirnya ia membuka suara.
'Baiklah kalau begitu, aku pamit. Maaf sudah mengganggumu. Tapi sebelum aku pergi, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Kalau kau sudah memutuskan untuk memilih..'
'TIDAK..' kupotong ucapan sang peri kecil sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
'Eh.. ehm.. Maaf, tapi mungkin tidak untuk saat ini..'
Aduhh, kenapa aku jadi begitu kasar kepadanya? Batinku.
'Hhhhhhh..' aku menghela nafas panjang. Mencoba untuk tidak terpengaruh oleh sisa emosiku tadi.
'Ya yaa.. tidak perlu saat ini,' ucapnya sabar.
'Mungkin suatu saat nanti. Kalau kau berkenan untuk menunjuk satu bintang, panggillah aku. Aku akan datang membawakannya untukmu. Kapanpun itu, aku siap datang padamu..'
'Terima kasih, peri kecil. Baiklah, aku berjanji akan memanggilmu kelak. Maaf sudah bersikap kasar padamu.'
'Tidak masalah. Itu salahku. Seharusnya aku tak memaksamu tadi. Kamu mau memaafkanku, kan?'
Bening matanya menatapku tulus.
Senyumku mengembang. 'Tentu saja. Kita kan teman..'
Kami sama-sama tertawa.

'Terima kasih ya, sudah bersedia menemaniku malam ini.'
Peri kecil itu tersenyum bersahabat, dan beranjak terbang meninggalkanku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
'Tapi, peri kecil! Tunggu dulu! Aku lupa bertanya siapa namamu.'
Peri kecil berhenti sejenak, menoleh. Senyumnya mengembang, dikepak-kepakkan kedua sayapnya.
'Aku adalah CINTA..'

Setelah berkata begitu, ia langsung terbang melesat. Lalu lenyap.

-Belina-
210310
10:00