Kata2 mati mengurungku.
Aku tiba2 merasa schizophrenia.
Terombang-ambing serba maya.
Bisu dlm semu.
Sendiri dlm sepi.
Hadirlah kau mlm ini.
Rindu ini nyaris buatku bunuh diri.
Tak apa jika kau tak pduli.
Aku pun sadar diri.
Tak lebih dr mengagumi.
-Belina-
070810
23.04
Sabtu, 25 September 2010
SUDIKAH?
Dalam jauhnya jarak yang memisahkan.
Dalam keadaan malam yang hujan.
Dalam angkuhmu yang demikian.
Dalam cintamu yang telah kau mentahkan.
Sudikah kau temui aku malam ini?
Seandainya hidupku hanya tersisa beberapa jam lagi..
-Belina-
210810
23.16
Dalam keadaan malam yang hujan.
Dalam angkuhmu yang demikian.
Dalam cintamu yang telah kau mentahkan.
Sudikah kau temui aku malam ini?
Seandainya hidupku hanya tersisa beberapa jam lagi..
-Belina-
210810
23.16
SEBELUM DATANG PENYESALAN
Tetaplah bersamaku,
selama aku masih ada untukmu.
Karna suatu saat aku mungkin akan berubah menjadi seorang yang tak kau kenal.
Dan saat itu yg bisa kau ingat hanya segenggam rindu akan apa yg telah kita lalui bersama..
Juga penyesalan yg sia-sia.
-Belina-
210810
11.08
selama aku masih ada untukmu.
Karna suatu saat aku mungkin akan berubah menjadi seorang yang tak kau kenal.
Dan saat itu yg bisa kau ingat hanya segenggam rindu akan apa yg telah kita lalui bersama..
Juga penyesalan yg sia-sia.
-Belina-
210810
11.08
Jumat, 24 September 2010
MERAH SENYUMMU
Aku suka merah.
Suka sekali.
Lebih dari warna apapun.
Begitupun ku suka senyummu.
Suka sekali.
Lebih dari senyum siapapun..
-Belina-
240910
19.09
Suka sekali.
Lebih dari warna apapun.
Begitupun ku suka senyummu.
Suka sekali.
Lebih dari senyum siapapun..
-Belina-
240910
19.09
SEPI SENDIRI
Malam galau resah hati.
Dihantui bayang mu yang tak juga pergi.
Meski nurani enggan berbagi.
Debar disini tak mampu ku pungkiri.
Maafkan jika kau tersakiti.
Karna ku jatuh cinta pada sepi dan sendiri.
-Belina-
190910
00.45
Dihantui bayang mu yang tak juga pergi.
Meski nurani enggan berbagi.
Debar disini tak mampu ku pungkiri.
Maafkan jika kau tersakiti.
Karna ku jatuh cinta pada sepi dan sendiri.
-Belina-
190910
00.45
CUKUP SEDIKIT
Beri aku ruang lebih sempit.
Beri aku kesempatan lebih sedikit.
Agar aku tidak terlalu jauh tertarik.
Agar kelak jatuhku tidak terlalu sakit..
-Belina-
190910
23.40
Beri aku kesempatan lebih sedikit.
Agar aku tidak terlalu jauh tertarik.
Agar kelak jatuhku tidak terlalu sakit..
-Belina-
190910
23.40
MILIKILAH
Miliki dia.
Miliki saja.
Hadirnya yg seperti ini bagiku sdh lebih dr cukup.
Milikilah dia.
Aku tidak peduli.
Asal jgn pernah larang aku mengaguminya.
Miliki dia.
Miliki saja.
Suatu saat kau akan kehilangan dia.
Tapi tidak dengan aku.
-Belina-
190710
13.18
Miliki saja.
Hadirnya yg seperti ini bagiku sdh lebih dr cukup.
Milikilah dia.
Aku tidak peduli.
Asal jgn pernah larang aku mengaguminya.
Miliki dia.
Miliki saja.
Suatu saat kau akan kehilangan dia.
Tapi tidak dengan aku.
-Belina-
190710
13.18
TAK KAN BERSATU
Simpan sendiri.
Tak pernah ku bagi.
Kuburkan sepi.
Meski ironi mengiris hati.
Nyaris satu setengah windu.
Kugambarkan diam dalam pilu.
Sosok cinta yang ku rindu.
Berpisah, takkan pernah lagi bersatu.
Lemah, getir ku melangkah.
Tiap ku ingat, air mata slalu tumpah.
Tegarku jadi lemah.
Lelah tangis ini brubah jadi darah.
Tak guna saling menyalahkan
Bersama bukan keinginan kalian.
Bukan pintaku ada dilahirkan.
Hidup harus dilanjutkan, meski terasa menyakitkan.
Tak lagi banyak usaha.
Semua tlah jadi sia2.
Hanya doa senantiasa.
Agar kalian slalu bahagia.
-Belina-
020910
22.58
Tak pernah ku bagi.
Kuburkan sepi.
Meski ironi mengiris hati.
Nyaris satu setengah windu.
Kugambarkan diam dalam pilu.
Sosok cinta yang ku rindu.
Berpisah, takkan pernah lagi bersatu.
Lemah, getir ku melangkah.
Tiap ku ingat, air mata slalu tumpah.
Tegarku jadi lemah.
Lelah tangis ini brubah jadi darah.
Tak guna saling menyalahkan
Bersama bukan keinginan kalian.
Bukan pintaku ada dilahirkan.
Hidup harus dilanjutkan, meski terasa menyakitkan.
Tak lagi banyak usaha.
Semua tlah jadi sia2.
Hanya doa senantiasa.
Agar kalian slalu bahagia.
-Belina-
020910
22.58
Kamis, 29 Juli 2010
TAK PANTAS UNTUKMU
Jerat bayang terjagakanku dari mimpi
Galau rindu mengusik kedalaman hati
Tak ingin ku nikmati, namun tak mampu ku pungkiri
Tentangmu menghantui, kacaukan konsentrasi
Hati, jiwa, terikat dilemma
Pertentangan rasa dan keyakinan-Nya
Tak mungkin ku langgar janji yang ku cipta
Meski itu menyakitiku, meski itu mengecewakanmu
Egokah ini? Mungkin bisa jadi
Tapi aku tak lebih dari ingin menjaga hati
Maaf, melarutkanmu dalam ragu
Membuatmu bertanya-tanya, dan akhirnya salah mempersepsikanku
Semua serba maya, bahkan apa yang kini ku rasa
Tak mungkin ku ungkap, biar ku nikmati sendiri saja.
Aku rasakan yang kau rasa
Tapi logika tegaskan realita
Kau dan aku berbeda
Tak pantas disandingkan bersama
-Belina-
280710
09.13
Galau rindu mengusik kedalaman hati
Tak ingin ku nikmati, namun tak mampu ku pungkiri
Tentangmu menghantui, kacaukan konsentrasi
Hati, jiwa, terikat dilemma
Pertentangan rasa dan keyakinan-Nya
Tak mungkin ku langgar janji yang ku cipta
Meski itu menyakitiku, meski itu mengecewakanmu
Egokah ini? Mungkin bisa jadi
Tapi aku tak lebih dari ingin menjaga hati
Maaf, melarutkanmu dalam ragu
Membuatmu bertanya-tanya, dan akhirnya salah mempersepsikanku
Semua serba maya, bahkan apa yang kini ku rasa
Tak mungkin ku ungkap, biar ku nikmati sendiri saja.
Aku rasakan yang kau rasa
Tapi logika tegaskan realita
Kau dan aku berbeda
Tak pantas disandingkan bersama
-Belina-
280710
09.13
Minggu, 25 Juli 2010
DIAKAH PEMILIKNYA
Dini hari yang dingin..
Detik yang berlalu, kantuk yang menguap
Sedang aku masih terpaku
Kertas ku kosong, pensil pun bengong
Otakku seperti tong yang melompong
Kemana rangkaian kata yang biasa sering menyapa?
Mengapa rasanya hampa tanpa nada
Yang ku dengar justru ketukan hati yang mengalun pelan
Menyanyikan simfoni yang lama tak ku kenal
Nada baru, dari seseorang yang baru
Genggam aku, Tuhan..
Jangan goyahkan apa yang selama ini ku yakinkan
Jangan cairkan apa yang selama ini kubekukan
Tetaplah rangkul hatiku, Tuhan..
Rasa yang kau cipta, adalah fitrah dan anugrah
Izinkan aku menjaganya agar tidak ternoda
Jika memang kelak tiba, dia yang akan menjadi pemiliknya.
_Belina-
240710
01.30
Detik yang berlalu, kantuk yang menguap
Sedang aku masih terpaku
Kertas ku kosong, pensil pun bengong
Otakku seperti tong yang melompong
Kemana rangkaian kata yang biasa sering menyapa?
Mengapa rasanya hampa tanpa nada
Yang ku dengar justru ketukan hati yang mengalun pelan
Menyanyikan simfoni yang lama tak ku kenal
Nada baru, dari seseorang yang baru
Genggam aku, Tuhan..
Jangan goyahkan apa yang selama ini ku yakinkan
Jangan cairkan apa yang selama ini kubekukan
Tetaplah rangkul hatiku, Tuhan..
Rasa yang kau cipta, adalah fitrah dan anugrah
Izinkan aku menjaganya agar tidak ternoda
Jika memang kelak tiba, dia yang akan menjadi pemiliknya.
_Belina-
240710
01.30
Senin, 19 Juli 2010
SAMAR
Semoga kau cukup peka untuk merasakan.
Aku sedang menutupi sebuah kejujuran perasaan.
Ku buat ia samar.
Sesamar sikapmu yang tak mampu kuterjemahkan.
Semoga mata batinmu cukup tajam untuk melihat.
Kepalsuan senyumku tuk tutupi luka hati yang terjerat.
Dan tak peduli datang aku kehadapanmu.
-Belina-
030710
01.05
Aku sedang menutupi sebuah kejujuran perasaan.
Ku buat ia samar.
Sesamar sikapmu yang tak mampu kuterjemahkan.
Semoga mata batinmu cukup tajam untuk melihat.
Kepalsuan senyumku tuk tutupi luka hati yang terjerat.
Dan tak peduli datang aku kehadapanmu.
-Belina-
030710
01.05
TAK PANTAS
Tak dapat dibagi.
Cukup dirasa sendiri.
Tampar warasku, hai realita.
Sadarkan bahwa ini tidak seharusnya.
Andai takdir dapat kutentukan,
Maka aku akan memilih untuk tidak memilih dan tidak pula dipilih.
Cukuplah realita dan logika buktikan.
Aku memang tdk pantas.
-Belina-
300610
00.38
Cukup dirasa sendiri.
Tampar warasku, hai realita.
Sadarkan bahwa ini tidak seharusnya.
Andai takdir dapat kutentukan,
Maka aku akan memilih untuk tidak memilih dan tidak pula dipilih.
Cukuplah realita dan logika buktikan.
Aku memang tdk pantas.
-Belina-
300610
00.38
Senin, 21 Juni 2010
MENULISKAN RINDU
Saat rindu mulai mengobrak-abrik nurani dan isi hati
Saat itulah aku tahu, kau bukan lagi yang ku kenal dulu
Sesak penuhi dada, memaksaku menuliskan rindu, buatmu
Kau tak lagi sesederhana dulu
Terkontaminasi lingkungan dan perasaan-perasaan setelah terlepas dariku (mungkin)
Lebih dewasa karena belajar dari kesalahan yang membuat kita terpisah (mungkin)
Menjadi lebih bersinar karena telah melupakan cerita kita (mungkin)
Menjadi seseorang yang ku kenal, tapi nyaris tak ku kenal
Jangan ucapkan kata penyesalan
Itu hanya akan memperburuk keadaan
Biar ku tuliskan rindu buatmu
Lewat kertas bertinta, Bukan lewat lidah bersuara
Ku tuliskan rindu yang sederhana
Yang cukup dimengerti kedalaman hati
Hmm, menuliskan rindu ternyata lebih cepat dan mudah ketimbang melupakanmu..
-Belina-
150610
17.45
Saat itulah aku tahu, kau bukan lagi yang ku kenal dulu
Sesak penuhi dada, memaksaku menuliskan rindu, buatmu
Kau tak lagi sesederhana dulu
Terkontaminasi lingkungan dan perasaan-perasaan setelah terlepas dariku (mungkin)
Lebih dewasa karena belajar dari kesalahan yang membuat kita terpisah (mungkin)
Menjadi lebih bersinar karena telah melupakan cerita kita (mungkin)
Menjadi seseorang yang ku kenal, tapi nyaris tak ku kenal
Jangan ucapkan kata penyesalan
Itu hanya akan memperburuk keadaan
Biar ku tuliskan rindu buatmu
Lewat kertas bertinta, Bukan lewat lidah bersuara
Ku tuliskan rindu yang sederhana
Yang cukup dimengerti kedalaman hati
Hmm, menuliskan rindu ternyata lebih cepat dan mudah ketimbang melupakanmu..
-Belina-
150610
17.45
ATAS NAMA PERSAHABATAN
Kita, satu jiwa dua tubuh
Lukamu juga sakitku
Ceriamu, cerminan senyumku
Ini perih kita, mari akhiri jadi tawa
Ini canda kita, jangan sampai buat duka
Saat mimpi ternodai emosi
Salah satu kita coba membuka mata
Terjang hadang segala galau
Wujudkan ilusi jadi realisasi
Ini luka karena cinta kita punya
Menangis bersama, lalu tertawa lupakan
Persetan dengan rasa takutmu
Lihat, kau masih punya aku !
Bagi bersama selagi masih bisa
Simpan di hati jika tak mungkin dibagi
Mereka boleh saja datang dan pergi
Tapi aku takkan pernah beranjak darimu
Biarkan mereka berprasangka
Mereka tak tahu apa yang terjadi pada kita
Tak perlu ucap kata sanggahan
Cukup diam, dan sunggingkan senyuman
Raih tanganku, dan eratkan genggaman
Mari teruskan langkah, bangun sebuah harapan
Yakinkan, kita mampu wujudkan
Berlandaskan sayang
Atas nama persahabatan
-Belina-
180610
23.45
Lukamu juga sakitku
Ceriamu, cerminan senyumku
Ini perih kita, mari akhiri jadi tawa
Ini canda kita, jangan sampai buat duka
Saat mimpi ternodai emosi
Salah satu kita coba membuka mata
Terjang hadang segala galau
Wujudkan ilusi jadi realisasi
Ini luka karena cinta kita punya
Menangis bersama, lalu tertawa lupakan
Persetan dengan rasa takutmu
Lihat, kau masih punya aku !
Bagi bersama selagi masih bisa
Simpan di hati jika tak mungkin dibagi
Mereka boleh saja datang dan pergi
Tapi aku takkan pernah beranjak darimu
Biarkan mereka berprasangka
Mereka tak tahu apa yang terjadi pada kita
Tak perlu ucap kata sanggahan
Cukup diam, dan sunggingkan senyuman
Raih tanganku, dan eratkan genggaman
Mari teruskan langkah, bangun sebuah harapan
Yakinkan, kita mampu wujudkan
Berlandaskan sayang
Atas nama persahabatan
-Belina-
180610
23.45
Rabu, 09 Juni 2010
(semoga) AKU BENAR-BENAR PERGI
Ku serahkan serpihan hatiku kepada dia yg berhak.
Biar tak lagi gamang.
Biar tak lsgi rindu dendam.
Hai, kau yg haq.
Miliki aku seutuh-utuhnya !
Dengsn payah, kuseret langkah.
Gontai aku mundur dari hidupnya.
Terima kasih, bayang2.
Kali ini aku benar2 pergi.
Permisi.
-Belina-
030610
01.16
Biar tak lagi gamang.
Biar tak lsgi rindu dendam.
Hai, kau yg haq.
Miliki aku seutuh-utuhnya !
Dengsn payah, kuseret langkah.
Gontai aku mundur dari hidupnya.
Terima kasih, bayang2.
Kali ini aku benar2 pergi.
Permisi.
-Belina-
030610
01.16
TAK BERBEKAS
Tak ada lembaran yang bisa ku tatap
Tidak pula sisa nyata yang bisa ku raba
Hanya gambaran maya, jika ku tutup mata
Memory yang seperti cctv,
Mereka ulang semua laku kita waktu itu
Jika aku hilang ingatan,
Maka lenyaplah kamu bersama tahun-tahun penantianku
-Belina-
050610
01.34
Tidak pula sisa nyata yang bisa ku raba
Hanya gambaran maya, jika ku tutup mata
Memory yang seperti cctv,
Mereka ulang semua laku kita waktu itu
Jika aku hilang ingatan,
Maka lenyaplah kamu bersama tahun-tahun penantianku
-Belina-
050610
01.34
BUKAN BERARTI
Semua tentangmu adalah sederhana
Tapi sebab itulah, kau jadi istimewa
Kenangan merajamku dalam haru biru
Belajar melupakanmu bukan berarti berhenti mencintaimu
Hingga kini masih ku harap kenangan yang jelas jelas semu
Bodohnya !
-Belina-
090610
00.19
Tapi sebab itulah, kau jadi istimewa
Kenangan merajamku dalam haru biru
Belajar melupakanmu bukan berarti berhenti mencintaimu
Hingga kini masih ku harap kenangan yang jelas jelas semu
Bodohnya !
-Belina-
090610
00.19
REALITA CINTA
Semoga tak ada upayamu untuk mencariku (lagi)
Aku pun berusaha untuk tak mencarimu (lagi)
Cukuplah kita miliki sedikit kenangan yang menyakiti
Daripada banyak kenangan yang meracuni dan akhirnya membunuh
Cukup pendam, lalu kubur dalam-dalam
Jangan pernah biarkan menyeruak ke permukaan
Karena pahitnya empedu yang pecah,
Takkan mudah terobati dengan manis madu sekalipun
Meski empedu pahit adalah penawar
Biar kita mati dalam racun serupa rindu yang menusuk merasuk
Membunuhku, membunuhmu
Biar kita mati dalam 1 rasa yang sama
Cinta terhalang realita
Jangan sesali andai kita bertemu lagi
Jangan tangisi jika kita tak bertemu lagi
Ini suratan kita
Hidup, mati tak mungkin bersama..
-Belina-
090610
01.04
Aku pun berusaha untuk tak mencarimu (lagi)
Cukuplah kita miliki sedikit kenangan yang menyakiti
Daripada banyak kenangan yang meracuni dan akhirnya membunuh
Cukup pendam, lalu kubur dalam-dalam
Jangan pernah biarkan menyeruak ke permukaan
Karena pahitnya empedu yang pecah,
Takkan mudah terobati dengan manis madu sekalipun
Meski empedu pahit adalah penawar
Biar kita mati dalam racun serupa rindu yang menusuk merasuk
Membunuhku, membunuhmu
Biar kita mati dalam 1 rasa yang sama
Cinta terhalang realita
Jangan sesali andai kita bertemu lagi
Jangan tangisi jika kita tak bertemu lagi
Ini suratan kita
Hidup, mati tak mungkin bersama..
-Belina-
090610
01.04
Rabu, 02 Juni 2010
IKATAN YANG TERLEPAS
Dulu..
Aku Kamu Satu ikatan
Aku Kamu Satu mimpi, berjuta harapan
Aku Kamu Dua langkah, satu genggaman
Aku Kamu Kebanggaan yang tak terpisahkan
Kemudian waktu berrotasi..
Aku Kamu Belajar memahami
Aku Kamu Coba mengerti kondisi dan situasi
Aku Kamu Melihat perbedaan sisi
Aku Kamu Pertahankan segala lebih erat lagi
Setelah itu..
Aku Kamu Introspeksi masing-masing kita
Aku Kamu Memutuskan untuk berhenti bersama
Sekarang..
Hanya Aku Aku Aku
Tidak ada kita, tidak ada kamu
Meski ku buat jalinan baru penggantimu
Bukan berarti aku sudah ikhlas
Merelakan sisa ikatan yang terlepas
-Belina-
020610
12.33
Aku Kamu Satu ikatan
Aku Kamu Satu mimpi, berjuta harapan
Aku Kamu Dua langkah, satu genggaman
Aku Kamu Kebanggaan yang tak terpisahkan
Kemudian waktu berrotasi..
Aku Kamu Belajar memahami
Aku Kamu Coba mengerti kondisi dan situasi
Aku Kamu Melihat perbedaan sisi
Aku Kamu Pertahankan segala lebih erat lagi
Setelah itu..
Aku Kamu Introspeksi masing-masing kita
Aku Kamu Memutuskan untuk berhenti bersama
Sekarang..
Hanya Aku Aku Aku
Tidak ada kita, tidak ada kamu
Meski ku buat jalinan baru penggantimu
Bukan berarti aku sudah ikhlas
Merelakan sisa ikatan yang terlepas
-Belina-
020610
12.33
Minggu, 30 Mei 2010
INI PILIHANKU
Aku tahu,
Mencintaimu tidaklah mudah
Kecewa sudah pasti ada
Terluka, salah satu konsekuensinya
Aku tahu,
Memujamu tak selamanya indah
Rindu sudah pasti menghantui
Cemburu akan senantiasa memburu
Aku juga tahu,
Menunggumu tak akan sebentar
Lelah sudah pasti menjamah
Bosan, entah berakhir harus sampai kapan
Aku tahu..
Aku tahu !!
Perih ini tak akan ku tangisi
Rasa tak terbalas ini tak kan ku sesali
Karena mencintaimu, adalah pilihanku..
-Belina-
290510
00.15
Mencintaimu tidaklah mudah
Kecewa sudah pasti ada
Terluka, salah satu konsekuensinya
Aku tahu,
Memujamu tak selamanya indah
Rindu sudah pasti menghantui
Cemburu akan senantiasa memburu
Aku juga tahu,
Menunggumu tak akan sebentar
Lelah sudah pasti menjamah
Bosan, entah berakhir harus sampai kapan
Aku tahu..
Aku tahu !!
Perih ini tak akan ku tangisi
Rasa tak terbalas ini tak kan ku sesali
Karena mencintaimu, adalah pilihanku..
-Belina-
290510
00.15
Jumat, 28 Mei 2010
PESONA AURA
Andai ku tahu sebelumnya
Kau punya pesona aura
Tak kan ku penuhi permintaanmu
Dan kuhindari pertemuan itu
Hatiku ini berlapis baja
Tapi pesonamu menusuk menembus raga
Orang sepertimu sangat ku takuti
Orang sepertimu sebisa mungkin ku hindari
Jangankan sampai merayu, diam pun kau sanggup melelehkanku
Danau ini tak lagi tenang, tuan..
Ada panas yang membuatnya beriak
Ada dingin yang membuatnya bergejolak
Sosokmu sungguh jauh dari kekasih impianku
Tapi lagi-lagi pesona itu mementahkan logikaku
Otakku dipenuhi ketakutan semu
Aku takut merasakan apa yang tidak kau rasakan
Hatiku ini tercuri, tuan..
Kepada siapa aku akan meminta pertanggung jawaban?
Sedang kau begitu suci
Hingga tak sadar pesonamu telah berubah jadi pencuri
Andai ku tahu sebelumnya
Andai kau tahu sesudahnya
Mungkin jatuh cinta ini tidak harus ada..
-Belina-
210510
01.13
Kau punya pesona aura
Tak kan ku penuhi permintaanmu
Dan kuhindari pertemuan itu
Hatiku ini berlapis baja
Tapi pesonamu menusuk menembus raga
Orang sepertimu sangat ku takuti
Orang sepertimu sebisa mungkin ku hindari
Jangankan sampai merayu, diam pun kau sanggup melelehkanku
Danau ini tak lagi tenang, tuan..
Ada panas yang membuatnya beriak
Ada dingin yang membuatnya bergejolak
Sosokmu sungguh jauh dari kekasih impianku
Tapi lagi-lagi pesona itu mementahkan logikaku
Otakku dipenuhi ketakutan semu
Aku takut merasakan apa yang tidak kau rasakan
Hatiku ini tercuri, tuan..
Kepada siapa aku akan meminta pertanggung jawaban?
Sedang kau begitu suci
Hingga tak sadar pesonamu telah berubah jadi pencuri
Andai ku tahu sebelumnya
Andai kau tahu sesudahnya
Mungkin jatuh cinta ini tidak harus ada..
-Belina-
210510
01.13
Kamis, 20 Mei 2010
KUCINTAI KEPINGAN KITA
Tak seorang pun tahu,
Tak seorang pun peduli..
Betapa aku merasa iri pada sebuah keutuhan
Yang harusnya kurasakan, tapi tidak ku dapatkan
Aku tumbuh dengan dunia, berguru kepada hidup
Maka aku belajar dari apa pun
Menjadi pribadi sendiri dan tidak peduli
9 tahun silam..
Saat ku tahu, kepura-puraan sudah menjadi keterbukaan
Saat pertengkaran sudah menjadi sebuah kebiasaan wajar
Hati mudaku yang ringkih tak mampu menelaah apa yang tengah terjadi
Saat ketidak seimbangan menuntunku mengenal seni dan melampiaskan emosi
Saat itulah aku jatuh cinta pada kesendirianku..
Mereka membiarkanku tumbuh sendiri
Mereka membiarkanku mencari apa yang tidak pernah kutemukan
Kini mereka mengeluh karena dewasaku keras dan acuh
Aku cuma belajar dari apa yang kalian ajarkan kepadaku.
Apa itu salah?
Tangis sudah lelah, senyum sudah beku
Aku tetap mencintai setiap kepingan kita
Meski serpihannya sudah tidak mungkin disatukan
Dalam acuh dan tidak peduli, aku tetap menyayangi..
-Belina-
190510
10:58
Tak seorang pun peduli..
Betapa aku merasa iri pada sebuah keutuhan
Yang harusnya kurasakan, tapi tidak ku dapatkan
Aku tumbuh dengan dunia, berguru kepada hidup
Maka aku belajar dari apa pun
Menjadi pribadi sendiri dan tidak peduli
9 tahun silam..
Saat ku tahu, kepura-puraan sudah menjadi keterbukaan
Saat pertengkaran sudah menjadi sebuah kebiasaan wajar
Hati mudaku yang ringkih tak mampu menelaah apa yang tengah terjadi
Saat ketidak seimbangan menuntunku mengenal seni dan melampiaskan emosi
Saat itulah aku jatuh cinta pada kesendirianku..
Mereka membiarkanku tumbuh sendiri
Mereka membiarkanku mencari apa yang tidak pernah kutemukan
Kini mereka mengeluh karena dewasaku keras dan acuh
Aku cuma belajar dari apa yang kalian ajarkan kepadaku.
Apa itu salah?
Tangis sudah lelah, senyum sudah beku
Aku tetap mencintai setiap kepingan kita
Meski serpihannya sudah tidak mungkin disatukan
Dalam acuh dan tidak peduli, aku tetap menyayangi..
-Belina-
190510
10:58
Minggu, 09 Mei 2010
UNTUK YANG BARU DATANG
Siapa yang baru datang?
Beraninya menelusup dengan lancang
Bikin leher jadi tegang
Jantung pun kejang-kejang
Siapa yang baru datang?
Bunuh sebelum tumbuh
Bakar sebelum mekar
Kubur sebelum terlanjur
Siapa yang baru datang?
Menyelinap masuk ke kawasan terlarang
Menyalakan lentera yang dulu padam
Lalu sembunyi dengan diam-diam
Jangan bangga dulu, tuan..
Anda belum sepenuhnya menang
Pertarungan baru dimulai
Masih jauh dari kata usai
Aku sama sekali bukan pengecut
Bukan pula mundur sebelum berperang
Tapi aku memilih untuk tidak memilih
Dan membunuh perasaanku tanpa perasaan
Demi kau.. Demi aku..
Maaf, egoku terlalu lancang
Tapi ini ketetapan undang-undang
Tidak memilih dan tidak memandang
Siapa yang baru datang
-Belina-
040510
01:51
Beraninya menelusup dengan lancang
Bikin leher jadi tegang
Jantung pun kejang-kejang
Siapa yang baru datang?
Bunuh sebelum tumbuh
Bakar sebelum mekar
Kubur sebelum terlanjur
Siapa yang baru datang?
Menyelinap masuk ke kawasan terlarang
Menyalakan lentera yang dulu padam
Lalu sembunyi dengan diam-diam
Jangan bangga dulu, tuan..
Anda belum sepenuhnya menang
Pertarungan baru dimulai
Masih jauh dari kata usai
Aku sama sekali bukan pengecut
Bukan pula mundur sebelum berperang
Tapi aku memilih untuk tidak memilih
Dan membunuh perasaanku tanpa perasaan
Demi kau.. Demi aku..
Maaf, egoku terlalu lancang
Tapi ini ketetapan undang-undang
Tidak memilih dan tidak memandang
Siapa yang baru datang
-Belina-
040510
01:51
KENANG AKU TANPA AIR MATA
Andai suatu ketika
Apa yang ku rasa terbukti jadi nyata
Biar takdir yang selanjutnya bicara
Kenang aku, tanpa air mata..
Tanpa sesal dalam dada
Tanpa dendam tersisa
Maaf atas rasa yang tak terungkap
Janji yang tak terpenuhi
Dan bahagia yang tak sempat tercipta
Kenang aku tanpa air mata..
Ingat aku pernah sempat ada
Meski hadir hanya lewat maya
Meski tidak terwujud dalam rupa
Kenang aku tanpa air mata
Semua ini cuma aku yang rasa
Maaf, aku terlalu ego untuk berbagi derita
Cerita, cinta, air mata..
Denganmu, gelapku cerah berbintang
Karena hadirmu, mendungku indah berpelangi
Terima kasih untuk senyum serta canda
Semoga kelak kau mempu mengenang semua
Tanpa air mata..
-Belina-
070510
21.09
Apa yang ku rasa terbukti jadi nyata
Biar takdir yang selanjutnya bicara
Kenang aku, tanpa air mata..
Tanpa sesal dalam dada
Tanpa dendam tersisa
Maaf atas rasa yang tak terungkap
Janji yang tak terpenuhi
Dan bahagia yang tak sempat tercipta
Kenang aku tanpa air mata..
Ingat aku pernah sempat ada
Meski hadir hanya lewat maya
Meski tidak terwujud dalam rupa
Kenang aku tanpa air mata
Semua ini cuma aku yang rasa
Maaf, aku terlalu ego untuk berbagi derita
Cerita, cinta, air mata..
Denganmu, gelapku cerah berbintang
Karena hadirmu, mendungku indah berpelangi
Terima kasih untuk senyum serta canda
Semoga kelak kau mempu mengenang semua
Tanpa air mata..
-Belina-
070510
21.09
Jumat, 23 April 2010
NGILU MERINDU
Pukul 02.31 dini hari.
Tubuh yang terjaga, dan pikiran yang lelah.
Lemah, dirajam rindu yang keterlaluan.
Sudut mata yang menganak sungai.
Menetesi sisi bantal dan rambut yang terurai.
Malam demikian dingin.
Sedingin kenangan kita yang menusuk hingga ke tulang rusuk.
Ngilu.. Perih.. Menggigil..
Rasaku tidak menguap, meski kau bakar dengan jarak.
Tidak membeku, meski waktu telah demikian angkuh memaksaku untuk membuangmu.
Apa yang kita rasa, kita jaga menjadi rahasia.
Bersenyawa menjadi udara.
Masih terasa hingga detik ini ku hirup.
Hati ini dingin, gelap dan terkunci.
Pulanglah...
Buka kuncinya, nyalakan perapiannya agar ruangan ini menjadi terang dan hangat untuk kita tempati berdua.
Kembalilah, aku masih menunggumu..
-Belina-
220410
03:03
Tubuh yang terjaga, dan pikiran yang lelah.
Lemah, dirajam rindu yang keterlaluan.
Sudut mata yang menganak sungai.
Menetesi sisi bantal dan rambut yang terurai.
Malam demikian dingin.
Sedingin kenangan kita yang menusuk hingga ke tulang rusuk.
Ngilu.. Perih.. Menggigil..
Rasaku tidak menguap, meski kau bakar dengan jarak.
Tidak membeku, meski waktu telah demikian angkuh memaksaku untuk membuangmu.
Apa yang kita rasa, kita jaga menjadi rahasia.
Bersenyawa menjadi udara.
Masih terasa hingga detik ini ku hirup.
Hati ini dingin, gelap dan terkunci.
Pulanglah...
Buka kuncinya, nyalakan perapiannya agar ruangan ini menjadi terang dan hangat untuk kita tempati berdua.
Kembalilah, aku masih menunggumu..
-Belina-
220410
03:03
Rabu, 21 April 2010
SAMPAH
Di pelataran jiwaku, berserakan puing-puing serpihan sisa bayangmu.
Sampah.
Tak lagi guna, cuma mengisi sebagian rongga kosong di kepala.
Kau adalah sampah.
Sampah plastik yang sudah terkubur bertahun-tahun di kedalaman tanah hatiku.
Tidak akan hilang, tidak hancur, tidak terurai sedikitpun!
Ya, kau sampah!
Kau kotorkan pikiranku dengan angan-angan tentangmu
Kau nodai dinding hatiku dengan grafity, gambaran pribadi keseharianmu
Kau buatku jatuh terpeleset karena perhatianmu yang kau buang sembarangan!
Kau tak salah, sampah..
Ini salahku yang salah menyikapimu
Harusnya aku bisa lebih bijak
Harusnya aku tahu, kau bisa didaur ulang
Kau tak salah, sampah..
Kau tidak bisa disalahkan!
Semua petaka ini terjadi karena ulahku, bukan karena maumu
Kau tak bisa disalahkan, sampah..
Kau cuma benda yang bisu dan diam
Akh, sial..
Ternyata justru diammu yang membuatku kukuh bertahan!
-Belina-
150410
13:03
Sampah.
Tak lagi guna, cuma mengisi sebagian rongga kosong di kepala.
Kau adalah sampah.
Sampah plastik yang sudah terkubur bertahun-tahun di kedalaman tanah hatiku.
Tidak akan hilang, tidak hancur, tidak terurai sedikitpun!
Ya, kau sampah!
Kau kotorkan pikiranku dengan angan-angan tentangmu
Kau nodai dinding hatiku dengan grafity, gambaran pribadi keseharianmu
Kau buatku jatuh terpeleset karena perhatianmu yang kau buang sembarangan!
Kau tak salah, sampah..
Ini salahku yang salah menyikapimu
Harusnya aku bisa lebih bijak
Harusnya aku tahu, kau bisa didaur ulang
Kau tak salah, sampah..
Kau tidak bisa disalahkan!
Semua petaka ini terjadi karena ulahku, bukan karena maumu
Kau tak bisa disalahkan, sampah..
Kau cuma benda yang bisu dan diam
Akh, sial..
Ternyata justru diammu yang membuatku kukuh bertahan!
-Belina-
150410
13:03
Senin, 19 April 2010
BOMA
Namanya Boma.
Boma Narakasura, lengkapnya.
Ia memandangku, aku lekat menatapnya.
Ku raih tangannya, kugenggam lembut.
Ada getar aneh dari sudut hatiku yang terdalam.
‘Nduk, kamu pernah dengar cerita tentang aku?’
‘Ya, pernah. Ketika aku kecil dulu. Tapi hanya sekelumit. Ku baca dari buku kumpulan dongeng pengantar tidur, bonus cuma-cuma dari susu instant yang kubeli.’
‘Lalu setelah itu?’ ia bertanya.
‘Selain itu. Hmm…’ aku berpikir sejenak.
‘Sepertinya tidak ada lagi. Sangat jarang aku menemukan kisah tentangmu. Kalaupun ada, ceritanya pasti tidak terlalu panjang.’
‘Ya, memang Nduk. Aku tidak sepopuler Arjuna atau Gatotkaca. Tidak banyak orang yang tertarik untuk mengulas kisah tentangku. Mereka lebih suka membahas tentang kisah tokoh-tokoh baik. Seperti Hanoman, yang menyelamatkan Sinta dari cengkraman Rahwana. Atau Yudhistira, tokoh dengan gambaran pribadi jujur, adil, sabar dan taat beragama.’
Ia diam sejenak. Memperhatikan setiap jengkal wajahku dengan seksama.
‘Ya, begitulah aku Nduk. Selalu dibuang dan disingkirkan.’
Wajahmu tampak begitu sedih.
Ku sentuh lembut bahumu, menenangkan.
‘Kau tidak sendiri, Kang…’ aku berbisik di telinganya.
‘Aku merasakan hal yang sama denganmu. Cuma bedanya, kau lelaki dan aku perempuan. Hhhh…’ aku menghela napas.
‘Sayang, aku perempuan. Tidak banyak yang bisa kulakukan dengan batasan kodratku.’
‘Jangan menyesal, Nduk,’ tangan Boma mengelus kepalaku.
‘Kau pun perempuan hebat. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana dahsyatnya kisahku terjadi pada seorang perempuan sepertimu. Kau tegar, Nduk. Sebagian pribadimu terwarisi dari sifatku.’
‘Maksudmu, aku setengah laki-laki?’ ku pasang mimik lucu.
Dia tertawa, begitupun aku.
Tiba-tiba ia mengusap pipiku perlahan.
‘Kau seharusnya menjadi pribadi yang lembut, Nduk. Kau pentasnya menjadi wanita yang anggun. Tidak semestinya kau merasakan apa yang kualami.’
‘Sudahlah, Kakang Boma. Apa yang telah terjadi pada kita tidak perlu disesali. Bukankah dengan adanya peristiwa itu, kita ditempa menjadi pribadi yang tahan banting. Kita tumbuh bersama lingkungan. Belajar kepada alam. Berguru kepada hidup. Mempersetankan cinta, berhati baja, tidak mudah dijatuhkan oleh siapapun...’
‘Tapi, Nduk…’ dia memotong kalimatku.
‘Kau ini wanita. Tidak sepatutnya kau berkeras seperti itu.’
‘Memangnya kenapa kalau aku wanita? Bukankah Srikandi juga seorang wanita? Tapi dia kuat, berani dan tangguh. Ia menentang apa yang tidak benar. Dia orang yang kukagumi selain dirimu.’
Ia diam memandangku. Tidak mengucap sepatah kata pun.
‘Kakang Boma, perihmu adalah perihku. Kita adalah satu jiwa yang terbelah menjadi dua tubuh. Lukamu adalah sakitku. Kerasku adalah amarah dan kecewa yang tidak pernah ku ungkap. Kita mengalami ketidakadilan yang sama, Kang!’
Dia masih bungkam.
‘Apakah salah kalau aku menjadi cerminan dari dirimu? Jawab, kang. Kenapa diam? Jawab, SALAHKAH AKU?’
Aku seketika tersentak. Tersadar oleh suara jeritanku sendiri. Aku menoleh ke kanan kiri. Sudah tidak ada siapapun di ruangan ini, tinggal kami berdua.
Hari sudah sangat senja. Orang-orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aku melangkah keluar dari gedung kesenian. Dengan menggenggam wayang Boma di tangan.
-Belina-
190410
18:55
Boma Narakasura, lengkapnya.
Ia memandangku, aku lekat menatapnya.
Ku raih tangannya, kugenggam lembut.
Ada getar aneh dari sudut hatiku yang terdalam.
‘Nduk, kamu pernah dengar cerita tentang aku?’
‘Ya, pernah. Ketika aku kecil dulu. Tapi hanya sekelumit. Ku baca dari buku kumpulan dongeng pengantar tidur, bonus cuma-cuma dari susu instant yang kubeli.’
‘Lalu setelah itu?’ ia bertanya.
‘Selain itu. Hmm…’ aku berpikir sejenak.
‘Sepertinya tidak ada lagi. Sangat jarang aku menemukan kisah tentangmu. Kalaupun ada, ceritanya pasti tidak terlalu panjang.’
‘Ya, memang Nduk. Aku tidak sepopuler Arjuna atau Gatotkaca. Tidak banyak orang yang tertarik untuk mengulas kisah tentangku. Mereka lebih suka membahas tentang kisah tokoh-tokoh baik. Seperti Hanoman, yang menyelamatkan Sinta dari cengkraman Rahwana. Atau Yudhistira, tokoh dengan gambaran pribadi jujur, adil, sabar dan taat beragama.’
Ia diam sejenak. Memperhatikan setiap jengkal wajahku dengan seksama.
‘Ya, begitulah aku Nduk. Selalu dibuang dan disingkirkan.’
Wajahmu tampak begitu sedih.
Ku sentuh lembut bahumu, menenangkan.
‘Kau tidak sendiri, Kang…’ aku berbisik di telinganya.
‘Aku merasakan hal yang sama denganmu. Cuma bedanya, kau lelaki dan aku perempuan. Hhhh…’ aku menghela napas.
‘Sayang, aku perempuan. Tidak banyak yang bisa kulakukan dengan batasan kodratku.’
‘Jangan menyesal, Nduk,’ tangan Boma mengelus kepalaku.
‘Kau pun perempuan hebat. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana dahsyatnya kisahku terjadi pada seorang perempuan sepertimu. Kau tegar, Nduk. Sebagian pribadimu terwarisi dari sifatku.’
‘Maksudmu, aku setengah laki-laki?’ ku pasang mimik lucu.
Dia tertawa, begitupun aku.
Tiba-tiba ia mengusap pipiku perlahan.
‘Kau seharusnya menjadi pribadi yang lembut, Nduk. Kau pentasnya menjadi wanita yang anggun. Tidak semestinya kau merasakan apa yang kualami.’
‘Sudahlah, Kakang Boma. Apa yang telah terjadi pada kita tidak perlu disesali. Bukankah dengan adanya peristiwa itu, kita ditempa menjadi pribadi yang tahan banting. Kita tumbuh bersama lingkungan. Belajar kepada alam. Berguru kepada hidup. Mempersetankan cinta, berhati baja, tidak mudah dijatuhkan oleh siapapun...’
‘Tapi, Nduk…’ dia memotong kalimatku.
‘Kau ini wanita. Tidak sepatutnya kau berkeras seperti itu.’
‘Memangnya kenapa kalau aku wanita? Bukankah Srikandi juga seorang wanita? Tapi dia kuat, berani dan tangguh. Ia menentang apa yang tidak benar. Dia orang yang kukagumi selain dirimu.’
Ia diam memandangku. Tidak mengucap sepatah kata pun.
‘Kakang Boma, perihmu adalah perihku. Kita adalah satu jiwa yang terbelah menjadi dua tubuh. Lukamu adalah sakitku. Kerasku adalah amarah dan kecewa yang tidak pernah ku ungkap. Kita mengalami ketidakadilan yang sama, Kang!’
Dia masih bungkam.
‘Apakah salah kalau aku menjadi cerminan dari dirimu? Jawab, kang. Kenapa diam? Jawab, SALAHKAH AKU?’
Aku seketika tersentak. Tersadar oleh suara jeritanku sendiri. Aku menoleh ke kanan kiri. Sudah tidak ada siapapun di ruangan ini, tinggal kami berdua.
Hari sudah sangat senja. Orang-orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.
Aku melangkah keluar dari gedung kesenian. Dengan menggenggam wayang Boma di tangan.
-Belina-
190410
18:55
Kamis, 25 Maret 2010
TUNJUK SATU BINTANG
Aku masih belum beranjak dari tempatku. Duduk di tengah hamparan tumbuhan perdu yang membentang. Ditemani derik jangkrik dan angin yang sesekali berhembus mempermainkan anak rambutku. Sejauh mata memandang, yang ada hanya padang perdu dan langit penuh bintang. Aku asyik sekali memandangi mereka. Sampai-sampai aku lupa sudah sejak kapan aku disini. Sejak beberapa jam yang lalu, sejak kemarin, seminggu yang lalu? Atau... ah, masa bodohlah. Aku sudah tidak peduli dengan laju waktu. Selama ia tidak mengusik keasyikanku ini, aku pun tidak akan mengganggunya.
'Apa yang sedang kau pikirkan?' sebuah suara menyapaku. Aku terkejut bukan main. Aku hanya sendiri disini. Dari mana asal suara itu?
'Aku disini,' ujar suara itu lagi.
Sebuah cahaya kecil terbang mendekatiku.
'Apa ini? Kunang-kunang?' kupincingkan mataku. Mencoba membiasakan pandanganku dengan cahayanya.
Ia sudah semakin dekat denganku. Sekarang bisa kulihat dengan jelas bagaimana bentuk aslinya. Makhluk kecil bersayap. Wajahnya cerah menebar senyum ramah. Seorang peri kecil.
'Hai..' dia menyapaku. Aku memandangnya. Diam. Tak bergerak, juga tak menjawab.
'Mengapa kau memandangku begitu? Apa kau merasa takut padaku?' sang peri kecil bertanya.
'Harusnya iya. Tapi nyatanya tidak. Karena rasanya aku sudah mengenalmu.' aku mencoba mengingat-ingat.
'Ya, aku sebenarnya sangat mengenalmu. Kita pernah beberapa kali bertemu. Mungkin kau lupa. Ehm, boleh aku menemanimu sebentar? Sepertinya kamu kesepian..'
Aku tersenyum.
‘Aku memang sendiri. Tapi aku tidak merasa kesepian. Tapi kalau kau mau menemaniku, silakan saja.'
Peri kecil itu terbang rendah, lalu mendarat di kedua lututku yang tertekuk.
'Ku perhatikan sejak tadi kau memandang langit dengan raut wajah yang berubah-ubah. Sebentar tersenyum, sebentar menerawang, lalu rautmu menjadi sedih sejenak, kemudian tersenyum lagi. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?' dia memandang wajahku lekat-lekat, seperti mencoba menilik apa yang tersirat didalamnya.
'Tidak ada,' aku menjawab singkat, lalu kembali asyik memandang langit.
'Kamu suka bintang?' peri kecil bertanya.
'Ya, aku suka sekali. Mereka unik. Bintang yang satu berbeda dengan yang lain. Mereka mempunyai ciri khas masing-masing.'
'Coba kau tunjuk satu bintang. Akan kubawakan ia kesini untuk menemanimu,' peri kecil menawarkan.
Senyum di wajahku meredup.
'Bintangku tidak hadir malam ini. Bintang kejoraku..'
'Jangan bersedih..' hibur peri kecil.
'Disini ada banyak bintang yang bisa menggantikannya.'
'Tidak. Mereka semua berbeda. Bintang kejoraku punya cahaya paling terang. Ia bintang paling indah yang pernah kulihat. Aku cuma mau bintang kejoraku..'
Peri kecil wajahnya berubah menjadi lebih sendu, seperti ikut merasakan kesedihanku.
'Kemana perginya bintang kejoramu?'
'Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Dulu, dia sempat menemaniku. Saat aku sedih, senang, atau sedang tidak merasakan apa-apa. Dia selalu ada untukku. Tidak ada tanda-tanda akan kepergiannya. Bahkan malam terakhir sebelum ia pergi, kami masih sempat bertemu. Ia tak mengucapkan sepatah katapun padaku malam itu. Entah apa yang terjadi padanya. Keesokan malamnya hingga malam-malam berikutnya, bintang kejoraku tidak pernah muncul lagi.'
'Karena itulah kau masih menunggunya disini?' peri kecil bertanya lagi.
Aku tak menjawab. Cuma tersenyum simpul, lalu kembali memandang langit.
Sang peri kecil menengadahkan kepalanya. 'Wah, ada banyak bintang menyapamu.'
'Ya, terkadang aku yang menyapa mereka,' senyum tergurat di wajahku sesaat.
'Tidakkah terpikir olehmu untuk memiliki salah satu dari sekian banyak bintang?' goda sang peri.
'Tidak. Aku cuma suka memandangi mereka saja. Tapi tidak untuk memiliki.'
'Ayolah.. mau berapa lama lagi kau menunggu sampai bintang kejoramu muncul? Yang jangankan menyapamu, untuk menampakkan dirinya di langit saja, ia tidak berkenan.'
'Jangan berkata seperti itu!' aku tiba-tiba menjadi emosi.
'Bintang kejoraku masih ada. Dia tidak pergi kemana-mana. Ia cuma tertutup awan mendung sementara. Dan aku percaya, setelah hujan turun nanti maka awan mendung akan lenyap. Saat itulah bintang kejoraku akan kembali menghias langit bersamaan dengan munculnya pelangi. Aku yakin!'
Peri kecil itu terpana menatapku. Ia tidak menyangka aku akan semarah itu. Ku atur nafasku yang terengah. Dalam hati, diam-diam aku menyesal telah bersikap kasar padanya. Harusnya aku tak perlu sampai begitu.
'Maafkan membuatmu marah,' peri kecil menepuk-nepuk lembut lututku.
Aku mengangguk sekilas, tapi tak menjawab.
Untuk beberapa lama kami saling terdiam. Sampai akhirnya ia membuka suara.
'Baiklah kalau begitu, aku pamit. Maaf sudah mengganggumu. Tapi sebelum aku pergi, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Kalau kau sudah memutuskan untuk memilih..'
'TIDAK..' kupotong ucapan sang peri kecil sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
'Eh.. ehm.. Maaf, tapi mungkin tidak untuk saat ini..'
Aduhh, kenapa aku jadi begitu kasar kepadanya? Batinku.
'Hhhhhhh..' aku menghela nafas panjang. Mencoba untuk tidak terpengaruh oleh sisa emosiku tadi.
'Ya yaa.. tidak perlu saat ini,' ucapnya sabar.
'Mungkin suatu saat nanti. Kalau kau berkenan untuk menunjuk satu bintang, panggillah aku. Aku akan datang membawakannya untukmu. Kapanpun itu, aku siap datang padamu..'
'Terima kasih, peri kecil. Baiklah, aku berjanji akan memanggilmu kelak. Maaf sudah bersikap kasar padamu.'
'Tidak masalah. Itu salahku. Seharusnya aku tak memaksamu tadi. Kamu mau memaafkanku, kan?'
Bening matanya menatapku tulus.
Senyumku mengembang. 'Tentu saja. Kita kan teman..'
Kami sama-sama tertawa.
'Terima kasih ya, sudah bersedia menemaniku malam ini.'
Peri kecil itu tersenyum bersahabat, dan beranjak terbang meninggalkanku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
'Tapi, peri kecil! Tunggu dulu! Aku lupa bertanya siapa namamu.'
Peri kecil berhenti sejenak, menoleh. Senyumnya mengembang, dikepak-kepakkan kedua sayapnya.
'Aku adalah CINTA..'
Setelah berkata begitu, ia langsung terbang melesat. Lalu lenyap.
-Belina-
210310
10:00
'Apa yang sedang kau pikirkan?' sebuah suara menyapaku. Aku terkejut bukan main. Aku hanya sendiri disini. Dari mana asal suara itu?
'Aku disini,' ujar suara itu lagi.
Sebuah cahaya kecil terbang mendekatiku.
'Apa ini? Kunang-kunang?' kupincingkan mataku. Mencoba membiasakan pandanganku dengan cahayanya.
Ia sudah semakin dekat denganku. Sekarang bisa kulihat dengan jelas bagaimana bentuk aslinya. Makhluk kecil bersayap. Wajahnya cerah menebar senyum ramah. Seorang peri kecil.
'Hai..' dia menyapaku. Aku memandangnya. Diam. Tak bergerak, juga tak menjawab.
'Mengapa kau memandangku begitu? Apa kau merasa takut padaku?' sang peri kecil bertanya.
'Harusnya iya. Tapi nyatanya tidak. Karena rasanya aku sudah mengenalmu.' aku mencoba mengingat-ingat.
'Ya, aku sebenarnya sangat mengenalmu. Kita pernah beberapa kali bertemu. Mungkin kau lupa. Ehm, boleh aku menemanimu sebentar? Sepertinya kamu kesepian..'
Aku tersenyum.
‘Aku memang sendiri. Tapi aku tidak merasa kesepian. Tapi kalau kau mau menemaniku, silakan saja.'
Peri kecil itu terbang rendah, lalu mendarat di kedua lututku yang tertekuk.
'Ku perhatikan sejak tadi kau memandang langit dengan raut wajah yang berubah-ubah. Sebentar tersenyum, sebentar menerawang, lalu rautmu menjadi sedih sejenak, kemudian tersenyum lagi. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?' dia memandang wajahku lekat-lekat, seperti mencoba menilik apa yang tersirat didalamnya.
'Tidak ada,' aku menjawab singkat, lalu kembali asyik memandang langit.
'Kamu suka bintang?' peri kecil bertanya.
'Ya, aku suka sekali. Mereka unik. Bintang yang satu berbeda dengan yang lain. Mereka mempunyai ciri khas masing-masing.'
'Coba kau tunjuk satu bintang. Akan kubawakan ia kesini untuk menemanimu,' peri kecil menawarkan.
Senyum di wajahku meredup.
'Bintangku tidak hadir malam ini. Bintang kejoraku..'
'Jangan bersedih..' hibur peri kecil.
'Disini ada banyak bintang yang bisa menggantikannya.'
'Tidak. Mereka semua berbeda. Bintang kejoraku punya cahaya paling terang. Ia bintang paling indah yang pernah kulihat. Aku cuma mau bintang kejoraku..'
Peri kecil wajahnya berubah menjadi lebih sendu, seperti ikut merasakan kesedihanku.
'Kemana perginya bintang kejoramu?'
'Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Dulu, dia sempat menemaniku. Saat aku sedih, senang, atau sedang tidak merasakan apa-apa. Dia selalu ada untukku. Tidak ada tanda-tanda akan kepergiannya. Bahkan malam terakhir sebelum ia pergi, kami masih sempat bertemu. Ia tak mengucapkan sepatah katapun padaku malam itu. Entah apa yang terjadi padanya. Keesokan malamnya hingga malam-malam berikutnya, bintang kejoraku tidak pernah muncul lagi.'
'Karena itulah kau masih menunggunya disini?' peri kecil bertanya lagi.
Aku tak menjawab. Cuma tersenyum simpul, lalu kembali memandang langit.
Sang peri kecil menengadahkan kepalanya. 'Wah, ada banyak bintang menyapamu.'
'Ya, terkadang aku yang menyapa mereka,' senyum tergurat di wajahku sesaat.
'Tidakkah terpikir olehmu untuk memiliki salah satu dari sekian banyak bintang?' goda sang peri.
'Tidak. Aku cuma suka memandangi mereka saja. Tapi tidak untuk memiliki.'
'Ayolah.. mau berapa lama lagi kau menunggu sampai bintang kejoramu muncul? Yang jangankan menyapamu, untuk menampakkan dirinya di langit saja, ia tidak berkenan.'
'Jangan berkata seperti itu!' aku tiba-tiba menjadi emosi.
'Bintang kejoraku masih ada. Dia tidak pergi kemana-mana. Ia cuma tertutup awan mendung sementara. Dan aku percaya, setelah hujan turun nanti maka awan mendung akan lenyap. Saat itulah bintang kejoraku akan kembali menghias langit bersamaan dengan munculnya pelangi. Aku yakin!'
Peri kecil itu terpana menatapku. Ia tidak menyangka aku akan semarah itu. Ku atur nafasku yang terengah. Dalam hati, diam-diam aku menyesal telah bersikap kasar padanya. Harusnya aku tak perlu sampai begitu.
'Maafkan membuatmu marah,' peri kecil menepuk-nepuk lembut lututku.
Aku mengangguk sekilas, tapi tak menjawab.
Untuk beberapa lama kami saling terdiam. Sampai akhirnya ia membuka suara.
'Baiklah kalau begitu, aku pamit. Maaf sudah mengganggumu. Tapi sebelum aku pergi, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Kalau kau sudah memutuskan untuk memilih..'
'TIDAK..' kupotong ucapan sang peri kecil sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
'Eh.. ehm.. Maaf, tapi mungkin tidak untuk saat ini..'
Aduhh, kenapa aku jadi begitu kasar kepadanya? Batinku.
'Hhhhhhh..' aku menghela nafas panjang. Mencoba untuk tidak terpengaruh oleh sisa emosiku tadi.
'Ya yaa.. tidak perlu saat ini,' ucapnya sabar.
'Mungkin suatu saat nanti. Kalau kau berkenan untuk menunjuk satu bintang, panggillah aku. Aku akan datang membawakannya untukmu. Kapanpun itu, aku siap datang padamu..'
'Terima kasih, peri kecil. Baiklah, aku berjanji akan memanggilmu kelak. Maaf sudah bersikap kasar padamu.'
'Tidak masalah. Itu salahku. Seharusnya aku tak memaksamu tadi. Kamu mau memaafkanku, kan?'
Bening matanya menatapku tulus.
Senyumku mengembang. 'Tentu saja. Kita kan teman..'
Kami sama-sama tertawa.
'Terima kasih ya, sudah bersedia menemaniku malam ini.'
Peri kecil itu tersenyum bersahabat, dan beranjak terbang meninggalkanku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
'Tapi, peri kecil! Tunggu dulu! Aku lupa bertanya siapa namamu.'
Peri kecil berhenti sejenak, menoleh. Senyumnya mengembang, dikepak-kepakkan kedua sayapnya.
'Aku adalah CINTA..'
Setelah berkata begitu, ia langsung terbang melesat. Lalu lenyap.
-Belina-
210310
10:00
Rabu, 03 Februari 2010
JANJI YANG TERCECER
Mana remah-remah yang berserakan..?
Sisa-sisa janjimu, yang masih sempat ku kumpulkan.
Ternyata tercecer disetiap langkah yang kau pijak.
Menguap bersama dingin embun sisa tetesan hujan air mata yang menanti pembuktian janji.
Kemarau di hati.
Mengeringkan sisa-sisa kepercayaan.
Membuat gersang senyum dan impian.
Masih kutunggu hujan, agar kepercayaan kembali segar.
Meskipun hanya hujan buatan. Sebentar datang, kemudian menghilang.
Sisa-sisa janjimu, yang masih sempat ku kumpulkan.
Ternyata tercecer disetiap langkah yang kau pijak.
Menguap bersama dingin embun sisa tetesan hujan air mata yang menanti pembuktian janji.
Kemarau di hati.
Mengeringkan sisa-sisa kepercayaan.
Membuat gersang senyum dan impian.
Masih kutunggu hujan, agar kepercayaan kembali segar.
Meskipun hanya hujan buatan. Sebentar datang, kemudian menghilang.
Minggu, 10 Januari 2010
HATI DAN JANTUNGKU
Heii, kalian berdua!!
Sedari tadi bertengkar saja!!
Tak ada yg mau mengalah.
Yang satu ego, yang lain terlalu batu.
Berisiik!! Ini sudah pagi, biarkan aku tidur.
Ku mohon, berdamailah kalian brdua.
Hatiku, dan jantungku.
Jgn sampai kalian berdua ku keluarkan dari dadaku!!
-Belina-
171209
13:04
Sedari tadi bertengkar saja!!
Tak ada yg mau mengalah.
Yang satu ego, yang lain terlalu batu.
Berisiik!! Ini sudah pagi, biarkan aku tidur.
Ku mohon, berdamailah kalian brdua.
Hatiku, dan jantungku.
Jgn sampai kalian berdua ku keluarkan dari dadaku!!
-Belina-
171209
13:04
BENARKAH ADA KUKURUYUK?
Kalimat demi kalimatnya masih tergambar jelas di mataku.
Otakku jadi asyik bercengkrama dibuatnya.
Menahan luapan perasaanku yg menunggu luapan perasaannya.
Dan, heii kemana perginya kantuk.
Apa ia lupa datang padaku?
Jutaan kalimat mendesak brontak.
Otakku masih juga sibuk.
Kenapa sudah ada bunyi ayam kukuruyuk?
-Belina-
191209
15:27
Otakku jadi asyik bercengkrama dibuatnya.
Menahan luapan perasaanku yg menunggu luapan perasaannya.
Dan, heii kemana perginya kantuk.
Apa ia lupa datang padaku?
Jutaan kalimat mendesak brontak.
Otakku masih juga sibuk.
Kenapa sudah ada bunyi ayam kukuruyuk?
-Belina-
191209
15:27
MENGHUJAM JANTUNGKU
Saat kau kini tak lagi menjadi sesuatu yang harus termiliki.
Saat cinta di hati terkikis ironi.
Merubah mimpi menjadi obsesi.
Aku berbohong. Dan kau tahu itu.
Aku tak acuh. Karena kaupun begitu.
Aku tergagap tak mampu teriak.
Saat tatap acuhmu menghujam jantungku.
-Belina-
231209
14:44
Saat cinta di hati terkikis ironi.
Merubah mimpi menjadi obsesi.
Aku berbohong. Dan kau tahu itu.
Aku tak acuh. Karena kaupun begitu.
Aku tergagap tak mampu teriak.
Saat tatap acuhmu menghujam jantungku.
-Belina-
231209
14:44
BISU MENUNGGU
Kau dan aku, adalah satu.
Dan ia tak pernah tahu itu.
Kau diam, aku bisu.
Jika ia tahu, ia akan mati kaku.
Biar saja begitu.
Biarkan ia menunggu.
Ia tak kan jadi pengganggu.
Karna aku sungguh mencintaimu.
-Belina-
020110
13:52
Dan ia tak pernah tahu itu.
Kau diam, aku bisu.
Jika ia tahu, ia akan mati kaku.
Biar saja begitu.
Biarkan ia menunggu.
Ia tak kan jadi pengganggu.
Karna aku sungguh mencintaimu.
-Belina-
020110
13:52
TAPI BUKAN AKU
Hapus namaku dari daftar mimpimu.
Kau hanya buang buang waktu.
Aku tak ingin memberimu status palsu.
Jangan paksa aku untuk menyakitimu.
Jangan paksa aku membuatmu menangis.
Akan ada seesorg yg tepat kan mencintaimu.
Seseorang, tapi bukan aku..
-Belina-
090110
11:58
Kau hanya buang buang waktu.
Aku tak ingin memberimu status palsu.
Jangan paksa aku untuk menyakitimu.
Jangan paksa aku membuatmu menangis.
Akan ada seesorg yg tepat kan mencintaimu.
Seseorang, tapi bukan aku..
-Belina-
090110
11:58
Langganan:
Postingan (Atom)